Jumlah Penerimaan Pajak dan Pendapatan DKI Jakarta Mengalami Peningkatan

1 Agustus 2022

|    Writer:

Shaheila Roeswan & Hillary Abigail

Photo of National Monument. Photo by Rifki Kurniawan on Unsplash.

Realisasi penerimaan pajak untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta (“DKI Jakarta”) mencapai jumlah sebesar Rp653,07 Triliun. Jumlah ini dikatakan meningkat jika dibandingkan dengan angka penerimaan di tahun 2021, yakni mengalami pertumbuhan sebesar 62,14%, dan telah memenuhi sebesar 79,15% dari total target hingga 30 Juni 2022.


Peningkatan jumlah penerimaan pajak ini didukung oleh Pajak Penghasilan (“PPh”) dan Bea Masuk yang masing masing mengalami kenaikan sebesar 75,09% dan 63,28%. Selain itu, Program Pengungkapan Sukarela (“PPS”) yang berakhir pada bulan Juni 2022 lalu juga disebut sebagai salah satu kunci dari meningkatnya jumlah penerimaan pajak terutama dari segi PPh final. Menurut Alfiker Siringoringo, Kepala Kantor Wilayah Pembendaharaan Provinsi DKI Jakarta, PPS tidak hanya berpengaruh dalam meningkatkan jumlah penerimaan pajak DKI Jakarta, tetapi juga meningkatkan kepatuhan para Wajib Pajak (“WP”) dalam hal melaporkan dan membayar pajak.


Tidak hanya perpajakan, tetapi pendapatan regional DKI Jakarta juga meningkat. Hal ini dapat dilihat dari besarnya pengaruh Badan Usaha Milik Negara (“BUMN”) sebagai salah satu bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (“PNBP”) yang mencapai jumlah Rp35,47 Triliun. Ditambah pula dengan neraca perdagangan DKI Jakarta yang menuju ke arah positif jika dibandingkan dengan tahun 2021. Meski begitu, ada beberapa sektor yang mengalami penurunan, salah satunya jumlah impor pada wilayah DKI Jakarta yang mengalami penurunan sebesar 2,8% jika dibandingkan dengan jumlah impor di bulan April 2022.


Ekonomi regional DKI Jakarta dinilai akan tetap meningkat, dimana hal ini dapat dilihat dari realisasi pendapatan Anggaran Penerimaan Belanja Daerah (“APBN”) yang telah mencapai 86,49% dari total target. Sebagai tambahan referensi, wilayah DKI Jakarta dicatat mempunyai inflasi di level 0,32% karena adanya kenaikan harga makanan, minuman, tembakau, dan juga transportasi, serta wilayah DKI Jakarta mengalami surplus sebanyak Rp588,83 Triliun atau mengalami peningkatan sebesar 121,93% jika dibandingkan dengan tahun 2021.